Pemkot Solo Tracing 100 Kontak Erat Kasus TBC di Jebres dan Mojosongo

Pemkot Solo Tracing 100 Kontak Erat Kasus TBC di Jebres dan Mojosongo
Warga mengantre layanan tracing tuberkulosis di Kantor Kecamatan Jebres, Solo, Selasa (22/4/2026). (Daerah/Wahyu Prakoso)

Selataninfo.com, SOLO – Dinas Kesehatan Kota (DKK) Solo melakukan tracing terhadap 100 kontak erat kasus tuberkulosis (TBC) di wilayah tersebut. Tracing dilakukan di Kantor Kecamatan Jebres, Solo, Rabu (22/4/2026). Sebanyak 405 kasus TBC ditemukan di Solo hingga Maret 2026.

Kepala DKK Solo, Retno Erawati Wulandari, mengatakan 100 kontak erat itu dari kasus tuberkulosis di Kelurahan Mojosongo dan Kelurahan Jebres. Tracing dilakukan secara terintegrasi dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG).

“Kegiatan ini sebagai upaya percepatan penurunan kasus TBC di Solo. Percepatan penurunan kasus TBC ini menjadi salah satu program prioritas Presiden Prabowo Subianto,” kata dia.

Menurut dia, tracing dilakukan tim DKK Solo, dokter spesialis paru dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Politeknik Kesehatan Kemenkes Surakarta, Perhimpunan Radiografer Indonesia, mahasiswa S3 Prodi Kesehatan Masyarakat Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, tim Kecamatan Jebres, dan Mentari Sehat Indonesia.

Dia mengatakan kasus TBC di Kota Solo sebanyak 2.269 kasus pada 2025. Sedangkan per Maret 2026 ada 405 kasus yang ditemukan. Total kasus TBC Jawa Tengah pada 2025 sebanyak 867.344 kasus.

“Kami melakukan pemeriksaan pada semua kasus TBC yang sudah ditemukan dan ditindaklanjuti dengan pelaksanaan tracing yang tuberkulosis yang terintegrasi dengan Cek Kesehatan Gratis. Kontak erat yang nanti terdiagnosis sebagai tuberkulosis akan kami berikan pengobatan sesuai dengan yang sudah ditentukan oleh Kementerian Kesehatan,” papar dia.

Retno mengatakan untuk sasaran yang tidak bergejala akan diberikan pengobatan dengan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT). Pemkot Solo berupaya membantu pasien TBC sembuh.

Retno menambahkan TBC menular melalui droplet (percikan dahak/lendir) yang dilepaskan penderita saat batuk, bersin, berbicara, atau meludah. Anggota keluarga maupun orang yang memiliki kontak erat berisiko tertular dengan pasien TBC sehingga perlu dicek kesehatannya.

“Rumah yang kurang sehat ini mendukung perkembangan bakteri TBC karena kondisinya lembap, tidak terkena sinar matahari sehingga bakteri TBC itu mudah atau senang berada di tempat tersebut. Kalau terkena sinar matahari itu kuman TBC itu akan mati,” papar dia.

Retno mengatakan TBC memiliki gejala secara umum berupa demam pada malam hari, batuk lebih dari dua pekan, kadang sampai mengeluarkan darah, berat badan badan turun, keringat dingin. 

Leave a Reply