Harga Minyak Goreng Naik, Pelaku Usaha di Wonogiri Putar Otak Cari Strategi

Harga Minyak Goreng Naik, Pelaku Usaha di Wonogiri Putar Otak Cari Strategi
Pekerja menggoreng kacang bawang di tempat usaha milik warga Desa Bulusulur, Kecamatan/Kabupaten Wonogiri, Minggu (15/2/2026). (Daerah/Muhammad Diky Praditia)

Selataninfo.com, WONOGIRI — Kenaikan harga minyak goreng di pasaran mulai jadi masalah bagi para pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) di Wonogiri. Lonjakan harga bahan baku utama itu memaksa pelaku usaha memutar otak mencari strategi untuk bertahan, mulai dari rencana menaikkan harga jual hingga mengurangi volume produk.

Pantauan di pasar tradisional Wonogiri, harga minyak goreng baik curah maupun kemasan mengalami kenaikan sejak menjelang Lebaran dan belum kembali normal hingga saat ini.

Salah satu penjual minyak goreng curah di Pasar Wonogiri, Ny Sakiman, mengatakan harga minyak goreng curah sempat menyentuh Rp22.500/kg menjelang Lebaran. Biasanya, harga akan turun setelah Lebaran ke kisaran Rp19.000/kg. Namun, hingga kini harga masih bertahan tinggi.

“Memang dari penyedia sudah naik. Biasanya habis Lebaran turun, tapi ini belum juga kembali normal,” kata Sakiman saat ditemui Espos, Kamis (23/4/2026).

Menurut dia, dalam sepekan terakhir harga sempat turun menjadi Rp22.000/kg, tetapi belum menunjukkan tren penurunan signifikan. Meski harga naik, ia mengaku tidak mengurangi pasokan. Dalam sehari, ia masih mampu menjual sekitar 100 kilogram minyak goreng curah.

Kenaikan harga tersebut, lanjut dia, banyak dikeluhkan pembeli, terutama pelaku usaha rumahan yang memproduksi camilan. Sebab, sebagian besar pelaku UMKM lebih memilih minyak goreng curah karena dinilai lebih ekonomis dan tahan digunakan berulang kali untuk menggoreng.

Biaya Produksi Melonjak

Keluhan serupa disampaikan pelaku usaha camilan kacang bawang di Desa Bulusulur, Wonogiri, Yusuf Mahendra. Ia mengatakan harga minyak goreng kemasan yang biasa dibelinya naik dari Rp19.000 per liter menjadi Rp22.000 per liter.

Kenaikan itu berdampak langsung pada biaya produksi. Pasalnya, dalam sehari ia memproduksi ratusan kilogram kacang bawang yang membutuhkan puluhan liter minyak goreng. “Biaya produksi jelas naik. Pilihannya cuma dua, menaikkan harga jual atau mengurangi volume produk supaya margin tidak tergerus,” ujar Yusuf.

Dia mengaku tengah mempertimbangkan menaikkan harga jual produk di lokapasar. Alternatif lain, mengurangi gramasi produk tanpa mengubah harga. Namun, ia enggan beralih ke minyak goreng curah karena khawatir mengubah cita rasa produknya. “Kalau pakai minyak curah, rasanya bisa beda. Jadi tetap pakai minyak kemasan,” katanya.

Tak hanya pelaku usaha, kenaikan harga minyak goreng juga dirasakan masyarakat umum. Basriati, warga Kelurahan Giripurwo, Wonogiri, mengaku harus lebih berhemat dalam penggunaan minyak goreng di rumah tangga.

Dia menyiasati kenaikan harga dengan menggunakan minyak goreng bekas hingga tiga sampai empat kali pemakaian. Padahal sebelumnya, minyak biasanya hanya digunakan maksimal dua kali. “Kalau sekarang ya dipakai lebih lama biar hemat. Soalnya yang naik bukan cuma minyak, tapi juga bahan lain seperti telur dan plastik,” ujarnya.

Kondisi ini menunjukkan tekanan biaya tidak hanya dirasakan pelaku usaha, tetapi juga rumah tangga. Jika tren kenaikan berlanjut, bukan tidak mungkin harga berbagai produk makanan ikut terdongkrak.

Leave a Reply