Selataninfo.com, SOLO — Empat pertandingan kedua di Group C dan Group D Piala Dunia 2026 semua penuh makna, tidak hanya profesionalisme dalam sepak bola, tetapi juga melibatkan harga diri bangsa, karakter permainan dan yang menarik adalah dimensi peradaban manusia. Semua pertandingan Jumat ini berlangsung di wilayah Amerika Serikat (AS). Dua pertandingan di Pantai Barat: AS vs Australia di Seattle, Washington dan Turki vs Paraguay di San Francisco, California. AS menang 2-0 atas Australia, melalui go bunuh diri pemain belakang Australia Burges dan sundulan kepala Alex Freeman. AS memastikan diri ke babak berikutnya, 32 besar sistem gugur. Sementara Turki dipastikan tersisih, setelah menelan kekalahan kedua, kali ini kalah 0-1 atas Paraguay.
Dua pertandingan di Pantai Timur: Maroko vs Skotlandia di Boston, Massachusetts dan Brazil vs Haiti di Philadelphia, Pennsylvania. Maroko menang tipis 1-0 atas Skotlandia dan Brazil menang 3-0 atas Haiti. Belum ada tim yang benar-benar aman untuk melaju ke babak berikutnya, tapi peluang Brazil dan Maroko tentu paling besar dibandingkan Skotlandia dan Haiti.
Pertandingan Maroko vs Skotlandia menjadi paling menarik, tidak hanya karena permainan sepak bola berkualitas tinggi yang dipertontonkan, tapi karakter atau warna sepak bola Eropa terlihat cukup menonjol. Akan tetapi, secara umum level permainan Maroko tidak setinggi ketika pada pertandingan ketika melawan Brazil.
Maroko memang masih memperagakan sepak bola menyerang, tetapi penyelesaiannya sering terbaru-buru dan kurang beruntung. Dipimpin oleh Kapten Achraf Hakimi, bintang bek sayap kelahiran Madrid, Spanyol, pernah main di Real Madrid, Dortmund (Jerman), Inter Milan (Italia) dan kini di Paris Saint Germain, permaian Maroko memang masih enak ditonton. Gol yang diciptakan oleh Ismael Saibari pada menit-menit awal masih membuktikan efektivitas serangan Maroko. Skotlandia agak lengah menjaga penyerang hebat sekaliber Saibari, yang selama ini bermain di PSV Eindhoven, Belanda.
Hal menarik yang perlu dicatat adalah bahwa hampir seluruh pemain Maroko adalah kelahiran luar negeri, sebagian besar Eropa. Kiper Yasin Bono kelahiran Kanada, Bek kiri Noussair Mazraoui (main di Manchester United) kelahiran Belanda, penyerang Bilal El-Khannouss (VfB Stuitgart) kelahiran Belgia, penyerang Ismael Saibari (PSV Eindhoven) kelahiran Spanyol, penyerang Ibrahim Diaz (Real Madrid) kelahiran Spanyol dan bintang muda 18 tahun yang bersinar Ayyoub Bouaddi (Lille), kelahiran Prancis.
Tidak perlu dijelaskan satu per satu pemain Maroko Diaspora yang menjadi tulang punggung sepak bola Maroko. Bahkan, Ayyoub Bouaddi selama rentang waktu 2024-2026, Bouaddi bermain 10 kali mewakili Prancis U21, sebelum bermain untuk negara asal orang tuanya Maroko. Sepak bola Maroko menjadi sangat maju karena kehadiran pemain diaspora, yang telah matang di liga sepak bola kasta tertinggi Eropa yang sangat kompetitif. Indonesia yang mencoba melakukan naturalisasi pemain sepak bola profesional yang memiliki darah Indonesia masih sering mendapatkan kritik, walau kadang tidak bermutu.
Dalam konteks pemain diaspora ini, cerita yang sedikit bertolak belakang menimpa Yasin Ayari, penyerang muda Swedia 22 tahun, bermain untuk Brighton di Liga Inggris, kelahiran Kota Solna, Swedia dari Ayah Tunisia dan Ibu Maroko. Sewaktu mencetak gol pertama dengan tendangan keras ke gawang Tunisia, Yasin Ayari tidak melakukan selebrasi, tapi hanya mengangkat kedua tangan, tanda menyerah, maksudnya masih menghormati negara asal orang tuanya.
Demikian pula, ketika mencetak gol keduanya atau gol kelima bagi Swedia di menit akhir, juga dengan tendangan keras, Ayari kembali hanya mengangkat tangan, tidak berselebrasi, tapi melakukan sujud syukur di lapangan. Fenomena keagamaan di lapangan sepak bola modern ini adalah potret kehidupan yang sebenarnya yang mewarnai industri sepak bola. Penyerang Mesir Mohammad Salah (Liverpool) dan Penyerang Senegal Sadio Mane (eks Liverpool dan Bayern Munchen) telah lama atau telah terbiasa melakukan selebrasi sujud syukur setiap kali mencetak gol.
Pertandingan Brazil vs Haiti juga cukup menarik. Haiti mampu memberikan perlawanan keras, walau sadar berada satu kelas di bawah Brazil. Haiti tidak berusaha keras untuk tidak kalah kedua kalinya, agar tidak langsung terisih. Tapi, arena World Cup 2026 merupakan panggung sepak bola tertinggi sejagad, sehingga persaingan sangat ketat. Dua gol Brazil diciptakan oleh Matheus Cunha (Manchester United) dan satu gol lagi diciptakan Vinicius Jr (Real Madrid).
Pertandingan Turki vs Paraguay berlangsung sangat seru. Pada menit pertama, Paraguay langsung membuat gebrakan dan Matias Galarza berhasil mencetak gol melalui tendangan akurat ke sisi kiri kiper Cekir. Turki langsung bangkit menyerang, mencoba berkali-kali tapi selalu kandas di barisan belakang Paraguay. Sementara itu Paraguay mulai bertahan dengan “parkir bus”, tapi masih terus melancarkan serangan balik cepat. Barisan belakang Paraguay tidak terlalu melakukan pressures atas pemain Turki, tapi menunggu dengan sabar, hingga pemain Turki membuat kesalahan, lalu menyerang balik.
Insiden agak konyol terjadi pada masa tambahan waktu babak pertama, ketika Miguel Almiron diganjar kartu merah, karena menutup mulutnya pada saat berbicara atau adu argumen dengan Mert Muldur. Ini peraturan baru FIFA untuk mengurangi tindakan tidak sportif, kata-kata kotor atau rasis. Tidak jelas kata-kata yang disampaikan, sangat mungkin cukup kasar.
Paraguay harus bermain dengan 10 orang, dan terus bertahan dengan ketat, bahkan sesekali mengancam gawang Turki. Agak mengherankan juga mengapa Pelatih Vincenzo Montella (berkebangsaan Italia) tidak mengubah cara atau strategi serangan Turki, menjadi pola tik-tak operan pendek, yang diakhiri dengan umpan terobosan. Pola umpan panjang ke sisi sayap, lalu diakhiri dengan bola cross ke depan gawang, telah terbukti tidak efektif, bahkan ketika melawan Australia. Materi pemain kelas dunia yang dimiliki Turkiye seperti Hakan Calhanoglu (Inter Milan), Arda Guler (Real Madrid), Kenan Yildiz (Juventus) dll menjadi sia-sia jika pola serangannya terkesan monoton.
Besok Hari Ahad masih ada pertandingan di Group E dan Group F yang tidak kalah seru, yaitu Jerman vs Pantai Gading di Toronto (Kanada), Ekuador vs Curacao di Kansas City, serta Belanda vs Swedia di Houston dan Tunisia vs Jepang di Monterrey (Meksiko).
Tulisan ini karya Prof Bustanul Arifin, Guru Besar Ekonomi Pertanian yang juga Penikmat Sepak Bola dan Kuliner

Leave a Reply