Selataninfo.com, BOYOLALI — Berbagai cara dilakukan untuk mengolah jamu tradisional agar tetap bisa bertahan di era modern, salah satunya yang dilakukan perempuan asal Dukuh Gondang, Desa Candi, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali, Tuti Widayati.
Ia mengolah jamu yang dikenal sebagai minuman tradisional dengan berbagai varian seperti latte, biji selasih, dan sebagainya dengan formula baru sehingga membuat jamu kekinian. Bahkan, jamu-jamunya bisa tembus pasar mancanegara yaitu Jepang.
Racikan minuman tradisional yang diolah kekinian tersebut kemudian dinamakan Wedang Djuminten. Kepada Espos, perempuan berusia 52 tahun tersebut menceritakan usahanya ia rintis sebelum pandemi Covid-19 sekitar 2019. Saat pandemi Covid-19 memuncak, usaha jamu Tuti langsung booming karena banyak orang mencari minuman herbal untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
Bahan-bahannya dari jahe, jeruk lemon, daun sereh, kayu manis, cengkih, dan berbagai bahan alami lainnya. “Perbedaan minuman tradisional saya dengan yang lain itu di inovasi rasa. Saya membuat resep secara tradisional dengan sentuhan kekinian. Saya ingin mengubah image jamu yang kesannya kuno dan pahit, anak-anak muda enggak suka menjadi jamu yang enak, kekinian, tampilan menarik, dan disukai oleh mereka,” kata dia, Minggu (28/6/2026).
Semasa pandemi Covid-19, Tuti juga mengikuti lomba meracik jamu di Museum R Hamong Wardoyo dan mendapat juara I. Setelah itu, penjualan jamunya semakin melejit.
Tuti mengakui dia tak memiliki background penjual jamu. Akan tetapi, ia dan mendiang suaminya pencinta minuman tradisional dari rempah. Bersama sang suami, ia didorong untuk melestarikan minuman tradisional. Tuti pun mengikuti berbagai pelatihan hingga ke kota-kota lain untuk membuat jamu.
“Nama Djuminten itu juga bukan nama orang tua atau nama siapa. Akan tetapi, nama Djuminten itu dicetuskan almarhum suami. Soalnya kesan nama Djuminten itu tradisional dan khas Jawani dan sederhana,” kata dia.
Akhirnya, ia membuat jamu baik dalam bentuk serbuk maupun sirup. Ada enam macam serbuk yang ia hasilkan mulai dari varian rasa jahe, kencur, beras kencur, temulawak, kunyit mangga, Wedang Djuminten untuk stamina, dan Segar Ayu untuk awet muda. Harganya untuk jamu serbuk sekitar Rp19.000-Rp20.000 per 100 gram.
Mengutamakan Kualitas
Kemudian, dalam bentuk sirup ada kunyit asem, wedang uwuh, teh telang, bajigur, dan peluntur lemak. Sirup kemasan 275 mililiter ia jual dengan harga Rp30.000 per botol.
“Harga di tempat saya terkesan lebih tinggi dibanding yang lain karena saya mengutamakan kualitas. Saya pilih kualitas premium, gula aren juga premium dan bukan gula jawa biasa, semua juga higienis. Bahan juga dari petani sekitar. Bahan wadahnya juga yang terbagus,” kata dia.
Ia juga membuat varian seperti jamu latte, soda, dan selasih. Soda dibuat bukan dari bahan kimia tapi dari kulit manggis. Namun, jamu campuran dari latte dan soda tersebut hanya akan dikeluarkan ketika dia membuka stan di kegiatan-kegiatan bazar.
Selanjutnya, Tuti mengatakan pemasaran jamunya dilaksanakan baik offline yaitu di rumah hingga reseller di pusat oleh-oleh baik di Boyolali, Yogyakarta, Salatiga, Solo, hingga masyarakat secara umum bahkan mahasiswa. Kemudian pemasaran secara daring lewat marketplace.
“Pemasaran juga sudah sampai Jepang. Dari Jepang itu permintaannya serbuk. Itu bisa dapat dari Jepang karena saya pernah ikut komunitas belajar begitu, terus di sana ada yang menjualkan. Dijualnya bisa ke orang Jepang atau orang Indonesia yang berada di sana,” kata dia.
Ia mengatakan dari berjualan jamu dengan brand Wedang Djuminten, Tuti mengatakan berhasil mengantongi pendapatan omzet sekitar Rp10 juta. Minuman tradisional kekinian Wedang Djuminten juga laku ribuan pcs per bulan.
Sementara itu, salah satu pelanggan jamu Wedang Djuminten, Nurul Yuniatri, mengatakan ia berlangganan jamu di tempat Tuti dan kerap membeli jamu varian Bajigur dan Peluntur Lemak.
“Kalau habis minum bajigur ada sensasi hangat di tenggorokan, terus badan juga jadi hangat. Kalau peluntur lemak gitu jadi pencernaan lancar di situ rasanya juga asam. Kalau jamu biasanya kunir asam dan beras kencur, di sini ada bajigur dan peluntur lemak. Enak dan kemasannya modern,” kata dia.

Leave a Reply