Selataninfo.com, PURWOKERTO-Pascasarjana UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto kembali menegaskan komitmennya dalam melahirkan akademisi yang menghasilkan riset aplikatif bagi masyarakat. Komitmen tersebut diwujudkan melalui ujian promosi doktor atas nama Sugeng Riyadi, Dosen UIN Saizu Purwokerto.
Dalam sidang terbuka yang berlangsung di Ruang Ujian Disertasi Pascasarjana pada Senin (27/7/2026) tersebut, Dr. Sugeng Riyadi berhasil mempertahankan disertasi berjudul Manajemen Keuangan Pondok Pesantren: Studi Kasus pada Anggota Himpunan Ekonomi Bisnis Pesantren (Hebitren) di Kabupaten Eks-Karesidenan Banyumas.
Penelitian tersebut menawarkan model baru tata kelola keuangan pesantren yang memadukan nilai-nilai kepesantrenan dengan prinsip manajemen modern, sehingga mampu menjawab tantangan pengelolaan lembaga pendidikan Islam yang semakin kompleks. Tim penguji terdiri atas Prof. Ridwan, Prof. Rohmat, Prof. Supani, Prof. Moh. Roqib, Dr. Ida Nurlaeli, Dr. Atabik, Dr. Muh. Hanif, dan Prof. Aan Jaelani.
Dalam sidang tersebut, para penguji memberikan pendalaman terhadap aspek teoritis, metodologi penelitian, hingga kontribusi praktis disertasi bagi pengembangan tata kelola keuangan pesantren di Indonesia.
Dalam penelitiannya, Dr. Sugeng Riyadi menjelaskan bahwa pesantren saat ini telah berkembang menjadi pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat. Selain menjalankan fungsi pendidikan dan dakwah, banyak pesantren mengelola berbagai unit usaha yang menopang kemandirian ekonomi lembaga.
Kondisi tersebut membuat sistem pengelolaan keuangan pesantren menjadi semakin kompleks. Sumber pendanaan tidak lagi hanya berasal dari syahriyah santri, tetapi juga berasal dari zakat, infak, sedekah, wakaf, hibah, bantuan pemerintah, hingga hasil usaha yang dikelola pesantren.
Menurut Dr. Sugeng, praktik pengelolaan keuangan di sejumlah pesantren masih bertumpu pada kepercayaan kepada kiai sebagai pemimpin utama. Tradisi tersebut merupakan bagian dari budaya kepesantrenan yang telah mengakar, namun tetap memerlukan penguatan melalui sistem tata kelola yang transparan, profesional, dan akuntabel.
“Karena itu diperlukan model manajemen keuangan yang mampu memadukan nilai-nilai kepesantrenan dengan prinsip akuntabilitas modern,” jelas Dr. Sugeng dalam pemaparannya.
Penelitian ini secara khusus mengkaji praktik manajemen keuangan pada pondok pesantren yang tergabung dalam Himpunan Ekonomi Bisnis Pesantren (Hebitren) di wilayah eks-Karesidenan Banyumas.
Selain menganalisis penerapan prinsip manajemen keuangan syariah, penelitian juga menelaah peran Hebitren dalam memperkuat kemandirian ekonomi pesantren sekaligus merumuskan model tata kelola keuangan berbasis jejaring.
Sugeng menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus jamak. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, serta studi dokumentasi di sejumlah pesantren anggota Hebitren.
Pemilihan lokasi penelitian menggunakan prinsip maximum variation case sampling, sehingga mampu menggambarkan beragam karakteristik dan praktik pengelolaan keuangan pesantren.
Seluruh data kemudian dianalisis melalui tahapan intra-kasus dan lintas kasus dengan pendekatan yuridis normatif-empiris yang menghubungkan fakta lapangan dengan regulasi serta prinsip-prinsip manajemen keuangan syariah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pesantren telah menjalankan fungsi dasar manajemen keuangan, mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pelaporan, hingga pengawasan.
Dalam praktiknya, tata kelola tersebut mengombinasikan kepemimpinan kiai dengan sistem administrasi kelembagaan yang terus berkembang. Penelitian juga menemukan bahwa beberapa pesantren telah menerapkan pemisahan dana berdasarkan sumber penerimaan dan tujuan penggunaannya. Meski demikian, kualitas pencatatan dan pelaporan keuangan masih beragam.
Temuan tersebut menunjukkan perlunya peningkatan kapasitas sumber daya manusia, standardisasi administrasi, serta pengembangan sistem pelaporan yang sesuai dengan karakteristik lembaga pesantren.
Dr. Sugeng juga mencatat bahwa prinsip manajemen keuangan syariah telah tercermin melalui nilai amanah, efektivitas, kemaslahatan, dan pengabdian sosial. Nilai-nilai tersebut menjadi landasan dalam setiap pengambilan keputusan keuangan maupun pengembangan usaha pesantren.
Penelitian ini juga mengungkap bahwa Hebitren memiliki posisi strategis dalam meningkatkan kapasitas manajerial pesantren. Melalui jejaring tersebut, pesantren memperoleh dukungan dalam bentuk peningkatan literasi keuangan, akses pembiayaan, akses pasar, hingga pengembangan kerja sama ekonomi antarpesantren.
Keberadaan Hebitren dinilai mampu memperkuat kemandirian ekonomi pesantren sehingga tidak hanya memberikan manfaat bagi lembaga, tetapi juga berdampak lebih luas terhadap pemberdayaan masyarakat.

Sebagai kebaruan penelitian, Dr. Sugeng Riyadi menawarkan model manajemen keuangan pesantren berbasis jaringan. Model tersebut mengintegrasikan fungsi manajemen keuangan, prinsip syariah, kepatuhan terhadap regulasi, pemisahan dana, akuntabilitas kelembagaan, mitigasi risiko, serta dukungan jejaring Hebitren dalam satu sistem pengelolaan yang terpadu.
“Penelitian ini menghasilkan model manajemen keuangan pesantren berbasis jaringan yang mengintegrasikan fungsi manajemen keuangan, prinsip syariah, kepatuhan regulatif, pemisahan dana, akuntabilitas kelembagaan, mitigasi risiko, dan dukungan jejaring Hebitren,” tegas Dr. Sugeng Riyadi.
Menurutnya, model tersebut diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pesantren, pemerintah, lembaga keuangan syariah, maupun organisasi pemberdayaan ekonomi dalam membangun tata kelola keuangan yang adaptif, akuntabel, dan berkelanjutan tanpa meninggalkan nilai-nilai khas kepesantrenan.
Promosi doktor kepada Dr. Sugeng Riyadi semakin mempertegas posisi Pascasarjana UIN Saizu Purwokerto sebagai pusat pengembangan keilmuan yang produktif menghasilkan riset berbasis kebutuhan masyarakat.
Melalui tradisi akademik yang kuat, dosen-dosen yang kompeten, serta budaya riset yang kolaboratif, Pascasarjana UIN Saizu terus mendorong lahirnya doktor-doktor yang memiliki integritas akademik, inovatif, serta mampu menawarkan solusi nyata bagi persoalan umat, termasuk dalam penguatan tata kelola ekonomi dan kelembagaan pesantren.
Riset Dr. Sugeng Riyadi menjadi salah satu contoh bagaimana hasil penelitian di lingkungan UIN Saizu tidak berhenti sebagai karya ilmiah, tetapi berpotensi menjadi referensi strategis dalam pengembangan sistem manajemen keuangan pesantren yang profesional, transparan, dan berdaya saing di era modern. (NA)

Leave a Reply