Jatmika tercenung di ruang tengah rumahnya. Ia merebahkan badan sembari menatap televisi. Matanya memang menatap kotak yang menyala itu, tapi pikirannya terbang tak tentu arah.
Seperti gagak, pikirannya kadang berkaok, kadang menukik ke suatu tempat, kadang hanya terbang seperti sedang merenungi nasibnya. Pikiran yang menandakan suatu kebimbangan dan menunjukkan bahwa seseorang sedang dirundung masalah.
Krisis yang tak kunjung reda berdampak pada pekerjaannya sebagai karyawan di perusahaan kain atau orang-orang lebih suka menyebutnya dengan pabrik tekstil. Seminggu lalu, ia mulai diistirahakan sementara. Begitu yang dikatakan atasannya.
Kata diistirahakan sementara itu terus mendengung di kepalanya. Apakah yang dimaksud sementara itu hanya seminggu atau paling buruk satu bulan lamanya? Atau, malah sampai menunggu krisis berakhir? Atau jangan-jangan, itu adalah awal dari diistirahatkan seterusnya alias di PHK?
Apa yang dipikirkannya tentu beralasan. Hal itu karena banyak temannya yang semula diistirahatkan sementara akhirnya tak pernah diminta kembali lagi. Sebelum seperti sekarang, krisis separah ini, ia masih masuk kerja 3 kali dalam seminggu.
Artinya ia masih kerja sehari masuk dan sehari libur meskipun itu sudah memengaruhi pendapatannya. Dipotong separuh. Tapi sekarang, ia benar-benar tak memperoleh pekerjaan.
Niat hati ingin mencari samben atau pekerjaan sampingan, tapi hal itu sepertinya perlu dipendam sedalam-dalamnya. Sebab di masa yang seperti ini, tidak ada yang bisa lagi diharapkan.
“Mas, kemarin Ali juga diistirahatkan. Istrinya cerita ke aku,” kata Marina, istri Jatmika, menyampaikan berita itu dari dapur.
Jatmika terkaget. Lamunannya buyar seketika. Ali tak lain tetangga yang jarak rumahnya selisih lima rumah ke arah matahari terbit. Ali juga bekerja di pabrik tekstil, satu perusahaan dengan Jatmika namun berbeda divisi.
Mereka sering bertemu tapi sangat jarang berencana berangkat bersama karena memiliki urusan masing-masing. Berita dari istrinya itu semakin menandakan sebuah kekhawatiran. Sebab hal ini menandakan bahwa keadaan kian memburuk di dunia pekerjaan yang dijalaninya.
***
Pekerjaan menjadi buruh di tengah krisis tidaklah mudah. Semua pabrik dapat dikatakan pasif atau karyawannya diistirahatkan sementara. Banyak pabrik yang biasanya bisa memproduksi kapan saja mendadak diliburkan dan tidak ada aktivitas.
Atas alasan itulah, banyak buruh diistirahatkan. Tentu hal itu bisa dimaklumi karena tidak adanya pekerjaan. Nahasnya, di tengah kesimpang-siuran itu, tidak ada pula kejelasan kapan krisis akan berakhir.
Itu sebabnya bisa saja mereka yang bekerja diistirahatkan dan mendapat potongan gaji atau bahkan bisa dipecat. Tentu saja karena tak ada pekerjaan yang dilakukan.
“Tapi sepertinya bukan sementara saja, soalnya istrinya cerita kalau Ali tidak diberitahu kapan masuk lagi,” kata Marina mendekati Jatmika sembari membawa dua mangkuk mi instan.
“Aku juga ragu apakah nanti bisa kerja di sana lagi. Teman-temanku sudah banyak yang di PHK,” kata Jatmika. Tangannya terulur menerima satu mangkuk dari istrinya.
“Kalau begitu cari kerja yang lain dulu, Mas,” ujar Marina menyarankan.
“Di masa yang seperti ini mana mungkin akan mudah dapat pekerjaan,” jawab Jatmika penuh kebimbangan.
“Iya juga, Mas. Tapi untuk menyambung hidup nanti bagaimana caranya? Persediaan kebutuhan juga sudah menipis. Kalau untuk makan masih bisa beli harian, tapi uangnya kan juga harus ada. Gaji terakhirmu sudah hampir tandas karena kemarin buat setoran angsuran motor dan juga mengangsur rumah ini. Hanya tinggal sedikit juga di tabungan,” Marina berkata dengan cukup serius dan penuh harap.
“Mau bagaimana lagi. Sabar saja dulu,” Jatmika menenangkan istrinya.
Kadang, hidup tak lebih dari tumpukan pekerjaan di ruangan pabrik. Harus teliti menyelesaikan masalah yang ada satu demi satu. kadang benang yang putus harus disambung agar dapat berfungsi kembali.
Tapi lebih dari itu semua, berspekulasi terhadap keadaan ke depan jauh lebih penting dari semuanya. Karena di hari depan, kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi. Barangkali akan ada bencana, musibah, atau hal yang paling sederhana yaitu halangan yang perlu dilewati satu persatu.
Barangkali benar, tiap orang yang menjadi buruh perlu selektif untuk mengerjakan hal-hal yang ada di hadapannya. Akan tetapi, jauh lebih lagi untuk menyiapkan atau merancang hidupnya sendiri.
Segala masalah memerlukan solusi, segala kegiatan perlu ditindaklanjuti, setiap hidup harus bisa berlanjut di kemudian hari. Kini, nasib Jatmika sama seperti gulungan benang yang ada di hadapannya. harus terurai agar masalah selesai. Agar hidup ke depan lebih mudah karena harus terdampak krisis.
***
Sejak diistirahatkan dari tempat kerjanya, Jatmika dirundung gelisah bukan kepalang. Sebagai seorang laki-laki, ia harus bertanggung jawab penuh atas kebutuhan rumah.
Tabungannya semakin menipis dan itu artinya ia akan menghadapi masalah yang semakin besar. Bukan hal mudah untuk mencari pekerjaan pengganti di tengah keadaan yang tidak menentu, sehingga keinginan untuk bekerja ia urungkan.
“Siapa yang membutuhkan pekerja di masa yang tak menentu begini,” pikir Jatmika.
Mengajak berdamai dengan keadaan juga mustahil untuk dilakukan. Sebab, keadaan kadang jauh lebih memahami manusia. Keadaan entah baik atau buruk akan selalu silih berganti menghinggapi nasib manusia.
Tidak ada yang bisa menghindarinya. Semua itu barangkali bisa diatasi dengan cara seseorang melakukan atau memutuskan sesuatu, tapi bukankah lebih sering apa yang dilakukan dan diputuskan salah jalan.
Kadang, keadaan memang begitu lucu. Bukan bermaksud naif. Nyatanya, seseorang yang telah merencanakan banyak hal dapat gugur begitu saja.
Seseorang bisa saja merencanakan bahkan menyusun daftar keinginan mereka, misal saja untuk membeli pakaian, gawai, sepeda motor, hingga rumah, seseorang menyusun rencana itu dengan cara mengangsur untuk mewujudkan rencana dan keinginannya.
Seseorang yakin dengan rencananya sehingga ia melakukan hal yang telah diyakininya. Keyakinan bisa terwujud jika tidak ada masalah. Tapi masalah dan keadaan lebih berkuasa. Seperti yang dihadapi Jatmika sekarang.
Bekerja untuk hidup. Hidup untuk bekerja. Dua hal itu terbesit di kepala Jatmika. Tanpa bekerja, hidupnya tidak akan lancar. Ia bekerja karena ia hidup. Dua hal itu memusingkan Jatmika.
Saban kali memikirkannya, kepalanya akan berdenyut dan terasa pening seperti setelah disengat seribu lebah. Menghadapi hidup tanpa bekerja adalah bentuk lain dari kekosongan.
***
Nasib kadang lebih mengejutkan dari benang yang putus atau sesekali saling sikut dengan rekan sepekerjaannya. Tapi kini semua seperti karma bagi Jatmika.
Kenyataan bahwa ia harus istirahat sementara itu sama halnya seperti benang yang putus itu, kaget dan terkejut. Pandemi yang menyebabkan semuanya.
“Kenapa tidak mencoba menjual atau menggadaikan kalungmu dulu saja?” celetuk Jatmika tiba-tiba.
Marina menatap Jatmika tajam. Suapan mi yang akan ia makan tak jadi masuk ke mulut. Mangkuk yang berisi mi instan ia turunkan.
Seolah tak percaya dengan apa yang dikatakan Jatmika, ia pun mencoba mengajukan pertanyaan dari suaminya: “maksudmu?”
“Ya begitulah. Aku jadi kepikiran. Siapa tahu kalungmu bisa jadi penyelamat kita,” Jatmika menjelaskan pada istrinya. Dengan penuh keyakinan. Tapi dalam hatinya terbesit rasa bersalah yang begitu dalam.
“Bagaimana mungkin bisa begitu, Mas. Itu kalung maskawin kita, mana mungkin bisa kita jual begitu saja,” protes Marina.
“Iya, aku paham. Tapi kenapa tidak kita coba gadaikan dulu saja. Nanti bisa diambil lagi kalau aku sudah dapat kerja lagi. Aku janji akan segera mencari pekerjaan lagi,” kata Jatmika meyakinkan.
“Kalau kau bisa segera dapat pekerjaan lagi kenapa harus merelakan kalung ini untuk digadaikan?” Marina mempertanyakan.
“Karena tak ada pilihan lagi, Marina. Kalung itu bisa jadi penyelamat kita. Kalung yang menyambung hidup kita di tengah pagebluk. Nanti juga akan kita ambil lagi,” Jatmika berusaha meyakinkan istrinya.
Marina tak menjawab. Dia terdiam lesu, kepalanya menunduk. Mangkuk yang masih berisi mi itu segera ia bawa ke dapur. Namun, sesampai di dapur Marina berseru, “besok antarkan aku ke pengadaian atau toko emas!”
***
Eko Setyawan lahir di Karanganyar, kini aktif sebagai guru SMA di Sukoharjo. Ia telah menerbitkan sejumlah kumpulan cerpen. Peraih Penghargaan Prasidatama Balai Bahasa Jawa Tengah 2021 dan Insan Sastra UNS 2018 ini juga memenangi berbagai lomba penulisan puisi dan cerpen.
Pengumuman Penerimaan Cerpen
Redaksi menerima kiriman cerpen dari para penulis dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Naskah dikirim dalam bentuk file attachment (lampiran), bukan ditulis langsung di badan surel.
2. Kirim ke alamat surel redaksi@daerah.co.id.
3. Panjang naskah 1.200 hingga 1.700 kata.
4. Kirim satu naskah saja dalam satu kali pengiriman. Kami tidak menerima kiriman beberapa cerpen dalam satu kali kiriman lewat surel.
5. Pastikan naskah belum pernah dimuat di media lain.
6. Sertakan data-data sebagai berikut:
-Nama lengkap
-Alamat surel aktif
-Alamat media sosial
-Nomor rekening (beserta nama pemilik rekening)

Leave a Reply