Selataninfo.com, SOLO — Seorang perempuan berusia 62 tahun yang dirawat di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS PKU Muhammadiyah Solo pada Jumat (31/8/2026) sore karena mengalami gejala sesak napas, dikarenakan kebakaran Aspol Panularan, Laweyan, sudah dibolehkan pulang.
Informasi itu disampaikan Kabag Pemasaran, Humas dan Kemitraan RS PKU Muhammadiyah Solo, Betty Andriani, melalui pesan WhatsApp (WA) kepada Espos, Sabtu (1/8/2026). Menurut dia pasien tersebut telah dibolehkan pulang pada Jumat malam.
“Pasien rawat jalan. Sudah pulang kemarin malam dari IGD,” tutur dia. Namun Betty tidak menjelaskan lebih lanjut jam berapa pasien itu meninggalkan IGD RS PKU Muhammadiyah Solo. Yang pasti, menurut dia, pasien tersebut sudah tidak mengalami sesak nafas.
Diberitakan Espos sebelumnya, korban kebakaran Asrama Polisi (Aspol) Panularan, Kecamatan Laweyan, Kota Solo, Jumat sore, dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS PKU Muhammadiyah Solo, menggunakan mobil ambulans.
Informasi yang dihimpun Espos, korban mengalami gejala sesak napas dipicu kebakaran yang melalap 12 rumah Aspol Panularan. Hal itu dikonfirmasi Kabag Pemasaran, Humas dan Kemitraan RS PKU Muhammadiyah Solo, Betty Andriani.
Menurut dia hingga pukul 19.30 WIB korban masih diobservasi di IGD RS PKU Muhammadiyah Solo. Dia mengonfirmasi korban mengalami sesak napas sehingga dibawa ke rumah sakit, dari lokasi kejadian kebakaran.
“Yang bisa saya sampaikan saat ini ada satu pasien masih observasi di IGD. Kondisi sesak napas. Untuk data pasien kami tidak bisa sampaikan karena perlu persetujuan pasien,” tutur dia.
Betty menjelaskan pasien berjenis kelamin perempuan dan berusia 62 tahun. Kemungkinan pasien mengalami syok atau kaget begitu mengetahui kebakaran yang melalap 12 rumah di Aspol Panularan.
“Kondisi seperti itu mungkin syok atau kaget, sehingga perlu observasi. Kami masih menunggu hasil observasi seperti apa. Kalau hasilnya baik ada kemungkinan rawat jalan,” terang dia.
Ditanya apakah ada pasien lain dari Aspol Panularan yang diobservasi di IGD RS PKU Muhammadiyah Solo, menurut Betty tidak ada. Informasi memang hanya satu pasien yang diobservasi.

Leave a Reply