Jalan Panjang Bupati Banyumas Kelola Sampah Hingga Berhasil Sabet ISRA 2026

Jalan Panjang Bupati Banyumas Kelola Sampah Hingga Berhasil Sabet ISRA 2026
Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, (kiri) menerima penghargaan Special Award - Social Responsibility Leadership of the Year dalam ajang Indonesia Social Responsibility Award (ISRA) 2026 yang ia terima di Swiss-Belhotel Solo, Kamis (6/8/2026) malam.(Espos/Dhima Wahyu Sejati)

Selataninfo.com, SOLO — Mengelola lautan sampah rumah tangga dalam skala kabupaten bukanlah pekerjaan yang mudah. Namun, Kabupaten Banyumas berhasil mengelola sampah dengan melibatkan warga.

Kementerian Lingkungan Hidup menobatkan Banyumas sebagai daerah nomor satu di Indonesia dalam hal pengelolaan sampah, dengan tingkat keberhasilan mencapai 77 persen.

Berkat rekam jejak tersebut, Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, diganjar penghargaan Special Award – Social Responsibility Leadership of the Year dalam ajang Indonesia Social Responsibility Award (ISRA) 2026 yang ia terima di Swiss-Belhotel Solo, Kamis (6/8/2026) malam.

Bagi Sadewo, penghargaan ini merupakan buah manis dari perjalanan panjang yang sudah dirintis sejak delapan tahun silam saat ia masih menjabat sebagai Wakil Bupati mendampingi bupati saat itu, Achmad Husein.

“Alhamdulillah, Banyumas sering mendapat penghargaan soal pengelolaan sampah. Sebetulnya ini bukan jasa saya sendiri, karena fondasinya sudah dibangun sejak 2018 waktu saya masih menjadi Wakil Bupati mendampingi Pak Achmad Husein [bupati], dan kini saya yang melanjutkan,” katanya saat ditemui Espos selepas menerima penghargaan, Kamis.

Sadewo mengatakan pendekatan yang dilakukan Banyumas adalah dengan sirkular ekonomi. Artinya, semua sampah yang bisa didaur ulang harus menghasilkan uang dan bernilai ekonomi. Ia menyebut ini sebagai Zero Waste to Money.

Berpijak dari prinsip Zero Waste to Money, ia mengatakan ekosistem persampahan di Banyumas sudah mulai terbentuk. Baik dari hulu hingga hilir, tata kelolanya disesuaikan dengan realitas pasar.

Sadewo menjelaskan sampah yang bernilai tinggi seperti botol mineral, kardus, dan kaleng dipilah untuk langsung dijual. Sampah organik diolah menjadi pupuk, pakan maggot, dan kini tengah diuji coba sebagai bahan bakar biomassa.

Sementara itu, ia mengatakan untuk sampah plastik bernilai rendah, diubah menjadi Refuse Derived Fuel (RDF).

“Plastik-plastik itu kita cacah, lalu kami jual sebagai bahan bakar pengganti batu bara ke pabrik Semen SBI di Cilacap dan Semen Bima,” terang Sadewo.

Sadewo kini tengah mencari teknologi murah untuk memisahkan plastik dengan lapisan aluminium foil. Jika berhasil, ia mengatakan Banyumas akan memproduksi biji plastik sebagai bahan baku produk jadi lainnya.

Tantangan Kultural di Masyarakat

Namun, Sadewo sadar bahwa tantangan terberat dalam perjalanan ini adalah mengedukasi masyarakat agar mau memilah sampah dari rumah. Saat ini pihaknya masih terus menggerakkan kampanye pilah sampah.

Guna mendukung gerakan itu, pihaknya meluncurkan aplikasi Sampah Online Banyumas (Salinmas) berbasis Android pada Januari 2020. Setelah itu disusul dengan program Ojeke Inyong (Jeknyong) pada Januari 2022.

Dua aplikasi tersebut punya prinsip yang sama, yakni memfasilitasi masyarakat yang sudah memilah sampah untuk kemudian dijemput dengan armada pengangkut. Sampah yang sudah dipilah itu kemudian dibeli oleh pemerintah.

Meski demikian, perjalanan Banyumas belum sepenuhnya usai. Masih ada 23 persen sisa sampah yang belum terkelola dengan sempurna. Sadewo ingin terus melibatkan masyarakat dalam program pengelolaan sampah.

Terdekat, ia ingin membuat lomba pilah sampah tingkat RT di 27 kecamatan setiap bulan. Namun, hal itu masih direncanakan dengan tujuan meningkatkan lagi partisipasi masyarakat untuk menuntaskan masalah sampah.

Banyumas membuktikan bahwa penyelesaian krisis lingkungan bisa dilakukan secara efisien dan efektif. Lewat perjalanan panjang, evaluasi, dan kepemimpinan yang realistis, sampah yang dibuang warganya kini pelan-pelan berbalik menjadi pundi-pundi rupiah.

Leave a Reply