Selataninfo.com, SOLO — Penanganan kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Putri Cempo, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Solo, terus menunjukkan perkembangan.
Berdasarkan hasil monitoring citra termal pada Jumat (11/9/2026) pukul 16.00 WIB, penanganan kebakaran di Blok B telah mencapai sekitar 80 persen dengan asumsi luasan penanganan sekitar 3,1 hektare.
Hal tersebut disampaikan dalam rapat koordinasi monitoring dan rencana tindak lanjut penanganan kebakaran TPA Putri Cempo pada Jumat. Rapat dipimpin Kepala Pelaksana BPBD Kota Solo, Ari Dwi Daryatmo, bersama Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Kota Solo, Indradi, serta unsur TNI AU, Polri, BNPB Pusat, BNPB Provinsi Jawa Tengah, dan Satpol PP Solo.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Solo, Ari Dwi Daryatmo, mengatakan berdasarkan hasil pemantauan citra termal, progres penanganan Blok B telah mencapai 80 persen. Meski demikian, proses pendinginan dan penyemprotan masih terus dilakukan karena sejumlah titik masih menunjukkan adanya panas dan asap.
“Berdasarkan hasil monitoring citra termal, pada pagi hari tadi progres penanganan di Blok B sudah mencapai sekitar 80 persen. Namun, masih ada beberapa lokasi yang menunjukkan panas dan asap sehingga tetap dilakukan penyemprotan dan pendinginan untuk memastikan tidak muncul bara api kembali,” kata dia.
Berdasarkan hasil pemantauan tersebut, lokasi di sekitar jaringan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) telah dinyatakan aman dari kebakaran. Sementara itu, di Blok B masih ditemukan asap kecil dengan suhu permukaan tertinggi mencapai 261 derajat Celsius. Suhu terendah berada pada kisaran 35-38 derajat Celsius.
Sementara itu, kondisi Blok C sudah stabil dan mengarah pada penyelesaian titik api. Meski demikian, proses injeksi ke dalam tumpukan sampah tetap dilakukan untuk memastikan sumber panas di dalam timbunan dapat dikendalikan.
Penanganan Capai 80 Persen
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Kota Solo, Indradi, menyampaikan penanganan pemadaman telah mencapai sekitar 80 persen menjelang berakhirnya masa tanggap darurat. Namun, masih terdapat sejumlah kendala di lapangan, terutama terkait suplai air, kondisi angin, dan keterbatasan unit pemadam.
“Sudah 80 persen untuk penanganan pemadaman sebelum tanggap darurat berakhir. Kendala di lapangan faktor suplai air, angin, unit pemadam terbatas,” ujar Indradi.
Petugas juga melakukan pembukaan akses menuju titik-titik yang sulit dijangkau menggunakan alat berat. Namun, aktivitas ekskavator akan dihentikan karena pembukaan tumpukan sampah berpotensi memunculkan titik api baru apabila tidak langsung diikuti pembasahan.
“Dilakukan pembukaan akses jalan dengan alat berat. Blok C dan D masih terbakar. Karena tidak ada pembasahan menyebabkan api baru. Aktivitas ekskavator akan dihentikan karena pembukaan sampah menyebabkan api baru,” jelas dia.
Selain itu, sisi timur TPA menjadi salah satu bagian yang mengalami kendala karena jangkauan air belum dapat mencapai seluruh titik yang masih memiliki potensi panas. Kondisi tersebut menyebabkan proses penanganan di area tersebut berlangsung lebih lambat.
Di sisi lain, upaya pendukung penanganan kebakaran juga dilakukan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) wilayah Jawa Tengah.
Berdasarkan laporan kegiatan harian OMC yang disampaikan Yana Arifin dan Moch. Gilang Rimbawan, pada Jumat dilakukan dua penerbangan menggunakan pesawat Cessna 208 Caravan/PK-YNA.
Penerbangan pertama berlangsung pukul 13.18-15.25 WIB dengan target penyemaian di wilayah Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Pemalang, dan Kabupaten Pekalongan. Penerbangan dilakukan pada ketinggian 10.000 kaki dan ditemukan awan cumulus dengan base 6.000-7.000 kaki serta top sekitar 11.000-13.000 kaki.
Dalam penerbangan tersebut digunakan 800 kilogram NaCl sebagai bahan semai. Arah angin dominan bertiup dari timur dan barat dengan kecepatan 2-15 knot.
Penerbangan kedua berlangsung pukul 16.00-17.33 WIB dengan target penyemaian di wilayah timur Solo. Pesawat beroperasi pada ketinggian 8.000-10.000 kaki dan menemukan awan cumulus dengan base sekitar 7.000 kaki serta top 10.000-12.000 kaki.
Sebanyak 800 kilogram NaCl digunakan pada penerbangan kedua dengan arah angin dominan dari tenggara berkecepatan 3-7 knot.
Pelaksanaan OMC dilakukan berdasarkan hasil pemantauan radar dan satelit cuaca BMKG serta rekomendasi supervisi BMKG, dengan tujuan mempercepat pertumbuhan awan yang berpotensi menjadi awan hujan.
Operasi Modifikasi Cuaca juga direncanakan kembali berlangsung pada Sabtu (12/9/2026). Berdasarkan dokumen Rencana Penerbangan OMC dalam rangka penanganan darurat bencana kebakaran TPA Putri Cempo yang disampaikan Koordinator Lapangan PT Gaia Ananda Samasta, M. Gilang Rimbawan, terdapat tiga rencana penerbangan menggunakan pesawat PK-YNA.
Penerbangan pertama direncanakan berlangsung pukul 10.30-12.30 WIB dengan wilayah operasi Surakarta/Jawa Tengah pada ketinggian 8.000-10.000 kaki. Penerbangan dijadwalkan dengan flight crew Capt. Judha, FO Gusti, FS Roland, dan FS Rafi.
Penerbangan kedua dijadwalkan pukul 14.30-16.30 WIB, juga di wilayah Surakarta/Jawa Tengah dengan ketinggian 8.000-10.000 kaki. Penerbangan ini dijadwalkan membawa Capt. Nuruddin, FO Rifan, FS Gilang, dan FS Tasya.
Sementara itu, penerbangan ketiga direncanakan pukul 17.00-19.00 WIB dengan wilayah operasi Surakarta/Jawa Tengah pada ketinggian 8.000-10.000 kaki. Flight crew yang dijadwalkan yakni Capt. Nuruddin, FO Rifan, FS Bintang, dan FS Hisyam.
Dalam dokumen tersebut juga disebutkan jadwal penerbangan dapat berubah menyesuaikan kondisi cuaca.
Dengan progres penanganan Blok B yang telah mencapai sekitar 80 persen, tim gabungan tetap melanjutkan penyemprotan, pendinginan, dan pemantauan titik-titik panas. Sementara itu, OMC terus dilakukan sebagai upaya pendukung untuk mempercepat potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah yang membutuhkan.
(Kurniawan)

Leave a Reply