Selataninfo.com, SEMARANG — Medali emas cabang olahraga rugby Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVII Jawa Tengah (Jateng) 2026 menjadi pencapaian tersendiri bagi kontingen Kota Surakarta atau Solo. Tim yang berlaga di Stadion Undip, Semarang, Rabu (28/10/2026), itu menyapu bersih empat pertandingan sejak babak penyisihan hingga final tanpa kekalahan.
Di balik keberhasilan tersebut, ada perjalanan dua atlet dengan latar belakang berbeda. Dimas Tantra, 20, merupakan mantan atlet pencak silat yang baru sekitar 1,5 tahun menekuni rugby. Sementara itu, Chairiansyah, 18, masih duduk di kelas XII SMA dan baru mengenal olahraga tersebut sekitar dua tahun lalu.
Bagi Dimas, rugby menjadi jalan baru untuk menyalurkan semangat kompetitifnya. Warga Wonorejo itu sebelumnya menekuni pencak silat, olahraga yang menurutnya memiliki persaingan ketat. Kesempatan mencoba rugby datang setelah seorang teman mengajaknya beralih cabang olahraga.
“Dulu saya atlet pencak silat. Persaingan memang ramai dan padat, terus ditawari teman ke rugby. Begitu dicoba, cocok karena saya suka kontak fisik. Alhamdulillah malah tembus Porprov, dan ini baru pertama kalinya saya ikut Porprov,” kenang Dimas seusai laga final.
Meski baru pertama kali tampil di Porprov, Dimas langsung merasakan ketatnya persaingan di ajang olahraga tingkat provinsi tersebut. Jadwal pertandingan yang padat dalam satu hari turut menguji kondisi fisik dan mentalnya.
Saat medali emas akhirnya diraih, perasaan Dimas bercampur aduk. Ia mengaku pencapaian itu terasa berbeda karena kali ini dirinya bertanding membawa nama Kota Surakarta di ajang bergengsi tingkat Jawa Tengah.
“Sebenarnya sudah beberapa kali ikut kejuaraan dan menang. Tapi ini ajang bergengsi, membawa nama Surakarta. Buat saya, ini bikin terharu, sedih, dan senang campur aduk,” pungkasnya dengan senyum lebar.
Di luar lapangan, Dimas juga menjalani tanggung jawab sebagai mahasiswa jurusan Teknik Elektro di sebuah kampus di Jawa Tengah. Ia harus membagi waktu antara kuliah, latihan, dan pertandingan.
Tantangan tersebut semakin terasa saat pertandingan. Dimas mengaku mengalami kram otot pada kaki, sementara rekan-rekan setimnya juga harus menjaga kondisi fisik di tengah persaingan yang ketat.
Bagi Dimas, pengalamannya berpindah dari pencak silat ke rugby menjadi pelajaran bahwa kegagalan atau ketidakcocokan dalam satu cabang olahraga bukan alasan untuk berhenti mencoba.
“Temukan rezeki kalian di mana, dan jangan langsung menyerah bila gagal di satu cabor,” pesannya.
Chairiansyah, Pelajar SMA yang Ikut Bawa Emas
Berbeda dengan Dimas yang sebelumnya menekuni pencak silat, Chairiansyah mulai mengenal rugby melalui kegiatan sosialisasi olahraga di sekolah sekitar dua tahun lalu. Ajakan seorang teman untuk mencoba permainan tersebut menjadi awal ketertarikannya hingga terus berlatih sampai sekarang.
“Ketertarikan dulu pas ada sosialisasi sekolah. Saya diajak teman, ikut main, keterusan sampai sekarang,” kenang Chairiansyah.
Porprov Jateng 2026 menjadi pengalaman pertamanya tampil di ajang tersebut. Meski masih berusia 18 tahun dan duduk di kelas XII SMA, Chairiansyah mendapat kesempatan menjadi bagian dari tim yang bersaing memperebutkan medali emas.
Dalam pertandingan penentu, termasuk final melawan Karanganyar, ia sempat mengalami kram pada kaki. Namun, pengalaman tersebut tidak menghapus kegembiraannya setelah tim Solo memastikan kemenangan.
“Rasanya sangat senang. Meskipun tadi kaki sempat kram juga selama tanding,” ungkapnya sambil tersenyum lepas.
Di tengah kesibukan sekolah tingkat akhir dan latihan, Chairiansyah berusaha menjaga konsistensi performa dengan memperhatikan waktu istirahat, pola makan, serta kebugaran tubuh. Baginya, menjaga kondisi fisik menjadi bagian penting agar tetap siap menghadapi pertandingan.
Ia juga mengajak anak-anak muda untuk mencoba rugby, terutama mereka yang belum mengenal olahraga tersebut.
“Kepada anak muda coba kalau belum kenal rugby, coba gabung, seru banget olahraga ini” serunya bersemangat.
Perjalanan Rugby Solo Menuju Emas
Tim rugby Kota Surakarta meraih emas setelah memenangi empat pertandingan dalam satu hari. Pada babak penyisihan, Solo mengalahkan Sragen dengan skor 35-7 dan Rembang 33-7.
Langkah mereka berlanjut ke semifinal dengan kemenangan 35-21 atas Sukoharjo. Pada partai final, Solo kembali tampil unggul setelah mengalahkan Karanganyar dengan skor 17-7.
Hasil tersebut mengantarkan tim rugby Solo ke podium tertinggi Porprov Jateng 2026. Bagi Dimas, pencapaian itu menjadi pengalaman berharga dalam perjalanan barunya setelah meninggalkan pencak silat. Sementara bagi Chairiansyah, emas tersebut menjadi bagian penting dari pengalaman pertamanya tampil di Porprov.
Dua atlet dengan latar belakang berbeda itu bertemu dalam satu tujuan: membawa nama Kota Surakarta meraih prestasi di arena rugby Jawa Tengah.

Leave a Reply