Selataninfo.com, NOVOSIBIRSK—Tim peneliti Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto melakukan validasi hasil penelitian tentang pembelajaran sains kontekstual di pendidikan dasar Indonesia dan Rusia melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) di Novosibirsk State Pedagogical University (NSPU), Rusia, pada Kamis (22/10/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kualitas penelitian sekaligus mengembangkan kolaborasi akademik lintas negara.
FGD bertema “Contextual Science Teaching in Indonesian and Russian Elementary Schools” tersebut membahas hasil penelitian berjudul “Contextual Science Learning in Elementary Education: A Cross-Cultural Study of Religious Values and Institutional Instructional Management in Indonesia and Russia”.
Penelitian ini mengkaji pembelajaran sains kontekstual di sekolah dasar dengan memperhatikan perbedaan budaya, nilai-nilai keagamaan, serta pengelolaan pembelajaran di kedua negara.
Tim peneliti UIN Saizu terdiri atas Direktur Pascasarjana Prof. Moh. Roqib, Wakil Direktur Pascasarjana Dr. Atabik, dan Manajer Kesekretariatan International Office Dr. Siti Sarah. Mereka berdiskusi dengan 10 pakar pendidikan dasar dari NSPU dalam pertemuan yang berlangsung selama satu jam di Department of Pedagogy and Methods of Primary Education, NSPU.
Diskusi berlangsung aktif dan hangat. Para pakar pendidikan dasar NSPU mengajukan sejumlah pertanyaan serta memberikan tanggapan terhadap temuan penelitian mengenai praktik pembelajaran di Indonesia dan Rusia. Masukan tersebut menjadi bahan penting untuk memperkuat analisis dan menyempurnakan hasil penelitian agar semakin sesuai dengan konteks pendidikan di masing-masing negara.
Prof. Moh. Roqib menjelaskan penelitian lintas budaya ini penting untuk memahami praktik pembelajaran sains dalam lingkungan pendidikan yang memiliki latar sosial, budaya, dan kelembagaan berbeda.
“Penelitian ini menjadi upaya untuk memahami bagaimana pembelajaran sains di pendidikan dasar diterapkan dalam konteks sosial dan budaya yang berbeda. Melalui kajian perbandingan Indonesia dan Rusia, kami ingin melihat bagaimana nilai-nilai keagamaan dan pengelolaan pembelajaran di lembaga pendidikan turut membentuk praktik pembelajaran sains,” ujar Prof. Moh. Roqib.
Setelah pelaksanaan FGD, kegiatan dilanjutkan dengan sharing session secara daring yang disampaikan oleh Dr. Atabik dengan topik “Sistem Pendidikan Dasar di Indonesia”. Sesi ini memberikan gambaran kepada peserta mengenai struktur dan karakteristik pendidikan dasar di Indonesia, khususnya melalui dua bentuk lembaga pendidikan, yaitu Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI).
Perspektif dalam Mengkaji Pembelajaran Sains Kontekstual
Dalam pemaparannya, Dr. Atabik menjelaskan SD dan MI memiliki karakteristik kelembagaan yang beragam, baik di lingkungan negeri maupun swasta. SD lebih banyak dijumpai dalam bentuk sekolah negeri, sedangkan MI lebih banyak dikelola oleh pihak swasta. Keragaman tersebut menjadi salah satu aspek yang relevan dalam memahami penyelenggaraan pendidikan dasar di Indonesia.
Pertukaran pengetahuan melalui FGD dan sharing session ini juga membuka ruang bagi para akademisi Indonesia dan Rusia untuk memahami sistem pendidikan masing-masing negara secara lebih mendalam. Diskusi lintas negara diharapkan dapat memperkaya perspektif dalam mengkaji pembelajaran sains kontekstual, terutama dalam kaitannya dengan nilai-nilai yang berkembang di masyarakat dan tata kelola institusi pendidikan.
Bagi UIN Saizu, kegiatan ini merupakan bagian dari pengembangan kerja sama internasional dalam bidang pendidikan dan penelitian. Kolaborasi dengan NSPU memberikan kesempatan bagi tim peneliti untuk memperoleh masukan akademik dari pakar di negara lain sekaligus memperluas jejaring keilmuan.
Melalui penelitian dan diskusi akademik lintas budaya, UIN Saizu terus berupaya memperkuat kontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan dasar. Kerja sama tersebut diharapkan dapat mendorong lahirnya kajian yang relevan dengan kebutuhan pendidikan serta memperluas peran perguruan tinggi dalam jejaring akademik internasional. (NA)

Leave a Reply