Pemkot Solo Pastikan MBG Tetap Berjalan, 75 SPPG Masih Operasional

Pemkot Solo Pastikan MBG Tetap Berjalan, 75 SPPG Masih Operasional
Sejumlah pekerja mengenakan alat pelindung diri lengkap saat mengemas ompreng di dapur Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) Semanggi 2, Pasar Kliwon, Solo, Senin (21/9/2026). (Daerah/Dhima Wahyu Sejati)

Selataninfo.com, SOLO — Pemerintah Kota (Pemkot) Solo memastikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap berjalan lancar. Meskipun sebelumnya terdapat kasus yang berujung pada penangguhan terhadap dua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), sebanyak 75 SPPG lainnya di Solo dipastikan masih beroperasi.

Hal tersebut ditegaskan Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Solo, Purwanti, saat ditemui seusai mendampingi Menteri Perdagangan meninjau SPPG Semanggi 2, Kecamatan Pasar Kliwon, Senin (21/9/2026).

“Kalau di Solo sampai dengan saat ini tidak ada informasi untuk menghentikan MBG. Dari 75 SPPG masih operasional semuanya. Terkait kasus kemarin pun sudah langsung kami sampaikan kepada orang tua, dan mereka masih ingin meneruskan MBG dengan mengalihkan pasokannya ke SPPG lain,” jelas Purwanti.

Terkait status dua SPPG yang ditangguhkan, Purwanti menyebut pihaknya masih menunggu perkembangan lebih lanjut dan evaluasi.

Dia berharap tidak ada lagi dapur yang menerima sanksi serupa ke depannya. Kedua SPPG tersebut juga diharapkan bisa segera memperbaiki standar agar dapat bergabung kembali.

Untuk menanggulangi keraguan siswa atau orang tua yang mungkin berujung pada makanan yang tidak dimakan dan dibuang, pihaknya akan menggencarkan edukasi mengenai keamanan pangan. Purwanti menekankan pentingnya transparansi antara pengelola dapur, pihak sekolah, dan wali murid.

“Kami membuka ruang untuk orang tua, komite, maupun siswa agar bisa melihat langsung bagaimana proses memasak di SPPG. Silakan melakukan kunjungan supaya mereka yakin bahwa dapur ini dikelola sesuai dengan standar higienitas dan sanitasi yang aman, sehingga kepercayaan terbangun,” urainya.

Apresiasi Pengemasan SPPG Semanggi 2

Dalam kesempatan tersebut, Purwanti turut mengapresiasi cara pengemasan yang diterapkan di SPPG Semanggi 2, terutama penggunaan sejumlah mesin modern.

Salah satunya adalah penggunaan mesin sealer atau penyegel yang dinilainya dapat menjamin makanan tetap steril dari potensi kontaminasi dan mencegah risiko tumpah selama proses distribusi.

“Penerapan khusus menggunakan mesin ini menjadi hal yang baik. Mungkin nanti SPPG yang lain akan kita dorong untuk menerapkan hal seperti itu karena dari sisi keamanan itu lebih terjamin dan tidak gampang kemasukan hal-hal yang tidak diinginkan,” kata Purwanti.

Di samping itu, dia mengatakan saat ini semua SPPG wajib menyematkan label batas maksimal konsumsi pada setiap wadah makanan. Hal tersebut untuk mengetahui apakah MBG masih aman dikonsumsi atau tidak.

Purwanti menjelaskan batas wajar makanan tersebut aman dikonsumsi adalah empat jam, dihitung dari makanan selesai dimasak. Jam yang tertera pada label akan disesuaikan dengan periode sif memasak setiap dapur.

“Misalnya periode masak jam 07.00 pagi, maka labelnya maksimal dikonsumsi jam 10.00. Kemudian ada periode kedua yang masak atau distribusinya jam 10.00, maka maksimal dikonsumsi jam 13.00. Semuanya sudah dilabel dengan jelas,” katanya.

Leave a Reply