Kuliner Langka! Serabi Khas Magetan Punya Cita Rasa Unik yang Terus Terjaga

Kuliner Langka! Serabi Khas Magetan Punya Cita Rasa Unik yang Terus Terjaga
Nenek Dinah, 86, perajin serabi asal Desa Tambakmas, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Magetan, saat memproduksi serabi, Minggu (1/11/2026). (Espos.id/Imam Mustajab)

Selataninfo.com, MAGETAN – Dapur sederhana milik lansia bernama Dinah, 86, di Desa Tambakmas, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, menjadi saksi bisu serabi khas Magetan yang masih tersisa. Di depan tungku kayu bakar, ia dengan telaten memanggang serabi yang  identik dengan cita rasa gurih tersebut.

Di Bumi Ki Mageti, nenek Dinah adalah segelintir perajin serabi khas Magetan yang masih tersisa. Bahkan, sejumlah warga menyebut nenek Dinah adalah satu-satunya perajin yang masih bertahan memproduksi kuliner berusia ratusan tahun yang kini keberadaanya sudah langka itu.

Saat ditemui Espos, Dinah menceritakan bahwa serabi buatannya memiliki cita rasa khas yang dominan gurih jika dibandingkan serabi dari daerah lain. Rasa gurih itu berasal dari penggunaan tepung beras yang digiling sendiri dan siraman kuah santan saat penyajian.

Dalam sehari, ia mengaku bisa menghabiskan 4 kilogram tepung beras pilihan untuk membuat serabi. Selain itu, dia juga biasa menghabiskan dua butir kelapa tua untuk dijadikan kuah pendamping saat menikmati serabi buatannya.

“Saya itu sudah membuat serabi ini mulai tahun 1965, sampe sekarang masih buat. Jualnya pagi di pasar desa sebelah,” ujarnya, Minggu (1/11/2026).

Untuk mempertahankan cita rasa serabi yang khas, tungku kayu bakar dengan tiga wajan berbahan tanah liat selalu menjadi andalan dalam proses pengolahan serabi. Sejak pukul 12.00 WIB hingga malam, nenek Dinah telah berada di depan tungku untuk memanggang serabi sedikit demi sedikit guna dijual keesokan hari.

Selama lebih dari 5 jam, ratusan serabi yang telah dipanggang didinginkan. Sedangkan kuah santan yang berasal dari dua butir kepala tua yang dia beli dari pasar juga diparut dengan tangan rentanya demi mendapat hasil yang maksimal.

Menurut Dinah, serabi buatannya biasa habis diserbu pembeli hanya dalam kurun waktu maksimal 4 jam saja. Bahkan, pada momentum tertentu ratusan serabi buatannya ludes diborong pembeli dalam satu jam saja.

“Buatnya itu mulai pagi, berasnya digiling sampe halus. Terus dikasih air dan dipanggang, kalau kelapanya saya parut pas sudah selesai bikin serabi, malem biasanya sekitar habis isya,” jelasnya.

Selain serabi khas Magetan, Dinah juga membuat Gempol yang terbuat dari bahan yang sama dengan serabi, yakni tepung beras. Ia menyebut, perbedaannya hanya pada tekstur gilingan tepung yang lebih kasar sehingga mempermudah proses pengukusan.

Jika biasanya gempol dinikmati bersama manisnya es dawet, kuliner gempol di Magetan lazim dipadukan dengan serabi yang disiram kuah santan yang gurih.

Kepada pembeli, Dinah biasa membanderol setiap serabi dan dempol dengan harga Rp1.000 per biji. Namun, pembeli lebih sering membeli dengan jumlah banyak sehingga dagangannya lebih cepat habis.

“Macem-macem, ada yang beli Rp5.000, Rp3.000, ada juga yang sampai Rp10.000. kalau libur cepat habis,” tuturnya.

Pada momentum tertentu seperti libur lebaran dan tahun baru, Dinah mengatakan para perantau dari luar kota seperti Surabaya dan Jakarta selalu menyempatkan diri untuk membawa serabi buatannya ke perantauan. Bahkan, para perantau dari luar pulau seperti Sumatera hingga Kalimantan juga memborong serabi dan gempol buatannya untuk dijadikan buah tangan.

Meski usianya tak lagi muda, Dinah bertekad terus melestarikan kuliner yang sudah ada sejak ratusan tahun tersebut. Di usia senjanya, ia akan senantiasa menggugah memori masa lampau penikmat serabi dan gempol khas Magetan yang tidak tergantikan.

“Dulu saya jualannya keliling sampai pasar baru Magetan, tapi sekarang karena sudah tua jualannya dekat rumah,” tandasnya.

Leave a Reply